Ketulusan
Ketulusan menempati peringkat pertama sebagai sifat yang paling disukai olehsemua orang. Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai karenayakin tidak akan dibodohi atau dibohongi. Orang yang tulus selalu mengatakankebenaran, tidak suka mengada-ada, pura- pura, mencari-cari alasan ataumemutarbalikkan fakta. Prinsipnya “Ya diatas Ya dan Tidak diatas Tidak”.Tentu akan lebih ideal bila ketulusan yang selembut merpati itu diimbangidengan kecerdikan seekor ular. Dengan begitu, ketulusan tidak menjadikeluguan yang bisa merugikan diri sendiri.
Kerendahan Hati
Berbeda dengan rendah diri yang merupakan kelemahan, kerendah hatian justrumengungkapkan kekuatan. Hanya orang yang kuat jiwanya yang bisa bersikaprendah hati. Ia seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk. Orangyang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain. Ia bisamembuat orang yang diatasnya merasa oke dan membuat orang yang di bawahnyatidak merasa minder.
Kesetiaan
Kesetiaan sudah menjadi barang langka & sangat tinggi harganya. Orang yangsetia selalu bisa dipercaya dan diandalkan. Dia selalu menepati janji, punyakomitmen yang kuat, rela berkorban dan tidak suka berkhianat.
Positive Thinking
Orang yang bersikap positif (positive thinking) selalu berusaha melihatsegala sesuatu dari kacamata positif, bahkan dalam situasi yang buruksekalipun. Dia lebih suka membicarakan kebaikan daripada keburukan oranglain, lebih suka bicara mengenai harapan daripada keputusasaan, lebih sukamencari solusi daripada frustasi, lebih suka memuji daripada mengecam, dansebagainya.
Keceriaan
Karena tidak semua orang dikaruniai temperamen ceria, maka keceriaan tidakharus diartikan ekspresi wajah dan tubuh tapi sikap hati. Orang yang ceriaadalah orang yang bisa menikmati hidup, tidak suka mengeluh dan selaluberusaha meraih kegembiraan. Dia bisa mentertawakan situasi, orang lain,juga dirinya sendiri. Dia punya potensi untuk menghibur dan mendorongsemangat orang lain.
Bertanggung jawab
Orang yang bertanggung jawab akan melaksanakan kewajibannya dengansungguh-sungguh. Kalau melakukan kesalahan, dia berani mengakuinya.Ketika mengalami kegagalan, dia tidak akan mencari kambing hitam untukdisalahkan. Bahkan kalau dia merasa kecewa dan sakit hati, dia tidak akanmenyalahkan siapapun. Dia menyadari bahwa dirinya sendirilah yangbertanggung jawab atas apapun yang dialami dan dirasakannya.
Percaya Diri
Rasa percaya diri memungkinkan seseorang menerima dirinya sebagaimanaadanya, menghargai dirinya dan menghargai orang lain. Orang yang percayadiri mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru. Diatahu apa yang harus dilakukannya dan melakukannya dengan baik.
Kebesaran Jiwa
Kebesaran jiwa dapat dilihat dari kemampuan seseorang memaafkan orang lain.Orang yang berjiwa besar tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa bencidan permusuhan. Ketika menghadapi masa- masa sukar dia tetap tegar, tidakmembiarkan dirinya hanyut dalam kesedihan dan keputusasaan.
Easy Going
Orang yang easy going menganggap hidup ini ringan. Dia tidak sukamembesar-besarkan masalah kecil. Bahkan berusaha mengecilkan masalah-masalah besar. Dia tidak suka mengungkit masa lalu dan tidak mau khawatirdengan masa depan. Dia tidak mau pusing dan stress dengan masalah-masalahyang berada di luar kontrolnya.
Empati
Empati adalah sifat yang sangat mengagumkan. Orang yang berempati bukan sajapendengar yang baik tapi juga bisa menempatkan diri pada posisi orang lain.Ketika terjadi konflik dia selalu mencari jalan keluar terbaik bagi keduabelah pihak, tidak suka memaksakan pendapat dan kehendaknya sendiri. Diaselalu berusaha memahami dan mengerti orang lain.
Artikel dikutip dari Kartu Pintar produksi Visi Victory Bandung
Label: Motivasi
Seorang wanita sedang menunggu di bandara suatu malam.Masih ada beberapa jam sebelum jadwal terbangnya tiba.Untuk membuang waktu, ia membeli buku dan sekantongkue di toko bandara lalu menemukan tempat untuk duduk.
Sambil duduk wanita tersebut membaca buku yang barusaja dibelinya.Dalam keasyikannya tersebut ia melihat lelakidisebelahnya dengan begitu berani mengambil satu ataudua dari kue yang berada diantara mereka.
Wanita tersebut mencoba mengabaikan agar tidak terjadikeributan.Ia membaca, mengunyah kue dan melihat jam.Sementara si Pencuri Kue yang pemberani menghabiskanpersediaannya. Ia semakin kesal sementara menit-menitberlalu.
Wanita itupun sempat berpikir Kalau aku bukan orangbaik, sudah ku tonjok dia! Setiap ia mengambil satukue, Si lelaki juga mengambil satu.
Ketika hanya satu kue tersisa, ia bertanya-tanya apayang akan dilakukan lelaki itu. Dengan senyum tawa diwajahnya dan tawa gugup, Si lelaki mengambil kueterakhir dan membaginya dua. Si lelaki menawarkanseparo miliknya, sementara ia makan yang separonyalagi.
Si wanita pun merebut kue itu dan berpikir ‘Ya ampunorang ini berani sekali, dan ia juga kasar, malah iatidak kelihatan berterima kasih’.
Belum pernah rasanya ia begitu kesal. Ia menghelanapas lega saat penerbangannya diumumkan. Iamengumpulkan barang miliknya dan menujupintu gerbang. Menolak untuk menoleh pada si “Pencuritak tahu terima kasih!”.
Ia naik pesawat dan duduk di kursinya, lalu mencaribukunya, yang hampir selesai dibacanya. Saat iamerogoh tasnya, ia menahan napas dengan kaget. Disituada kantong kuenya, di depan matanya.
Koq milikku ada di sini erangnya dengan patah hati,Jadi kue tadi adalah miliknya dan ia mencoba berbagi.Terlambat untuk minta maaf, ia tersandar sedih. Bahwasesungguhnya dialah yang kasar, tak tahu terima kasihdan dialah pencuri kue itu.
Dalam hidup ini kisah pencuri kue seperti tadi seringterjadi. Kita sering berprasangka dan melihat oranglain dengan kacamata kita sendiri/subjektif serta takjarang kita berprasangka buruk terhadapnya.
Orang lainlah yang selalu salah,orang lainlah yang patut disingkirkan,orang lainlah yang tak tahu diri,orang lainlah yang berdosa,orang lainlah yang selalu bikin masalah,orang lainlah yang pantas diberi pelajaran.
Padahal…..???kita sendiri yang mencuri kue tadi, padahal kitasendiri yang tidak tahu malu.Kita sering mempengaruhi, mengomentari, mencemoohpendapat, penilaian atau gagasan orang lain sementarasebetulnya kita tidak tahu betul permasalahannya
Label: Motivasi
Ada sebuah kampung di pedalaman Tanah Jawa. Di situ ada seorang perempuantua yang sangat kuat beribadat. Pekerjaannya ialah membuat tempe danmenjualnya di pasar setiap hari. Ia merupakan satu-satunya sumberpendapatannya untuk menyara hidup. Tempe yang dijualnya merupakantempe yang dibuatnya sendiri.
Pada suatu pagi, seperti biasa, ketika beliau sedang bersiap-siap untukpergi menjual tempenya, tiba tiba dia tersedar yang tempenya yangdiperbuat daripada kacang soya hari itu masih belum menjadi, separuh jadi.Kebiasaannya tempe beliau telah masak sebelum bertolak. Diperiksanyabeberapa bungkusan yang lain. Ternyatalah memang kesemuanya belum masaklagi.
Perempuan tua itu berasa amat sedih sebab tempe yang masih belum menjadipastinya tidak akan laku dan tiadalah rezekinya pada hari itu. Dalamsuasana hatinya yang sedih, dia yang memang kuat beribadah teringat akan firmanTuhan yang menyatakan bahawa Tuhan dapat melakukan perkara-perkara ajaib,bahawa bagi Tuhan tiada yang mustahil. Lalu diapun mengangkat keduatangannya sambil berdoa , “Tuhan , aku memohon kepadaMu agar kacangsoya ini menjadi tempe. Amin” Begitulah doa ringkas yang dipanjatkan dengan sepenuh hatinya. Dia sangat yakin bahawa Tuhan pasti mengabulkan doanya. Dengan tenang perempuan tua itu menekan-nekan bungkusan bakal tempe dengan hujung jarinya dan dia pun membuka sikit bungkusan itu untuk menyaksikan keajaiban kacang soya itu menjadi tempe. Namun, dia termenung seketika sebab kacang tu masih tetap kacang soya.
Namun dia tidak putus asa, sebaliknya berfikir mungkin doanya kurangjelas didengar oleh Tuhan. Maka dia pun mengangkat kedua tangannya semula danberdoa lagi. “Tuhan, aku tahu bahawa tiada yang mustahil bagiMu. Bantulah aku supaya hari ini aku dapat menjual tempe kerana inilah mata pencarianku. Aku mohon agar jadikanlah kacang soyaku ini kepada tempe, Amin”.Dengan penuh harapan dan debaran dia pun sekali lagi membuka sedikitbungkusan tu. Apakah yang terjadi? Dia termangu dan hairan apabilatempenya masih tetap begitu!!
Sementara itu hari pun semakin meninggi sudah tentu pasar sudah muladidatangi ramai orang. Dia tetap tidak kecewa atas doanya yang belumterkabul. Walaubagaimanapun kerana keyakinannya yg sangat tinggi diabercadang untuk tetap pergi ke pasar membawa barang jualannya itu.
Perempuan tua itu pun berserah pada Tuhan dan meneruskan pemergian ke pasar sambil berdoa dengan harapan apabila sampai di pasar kesemua tempenya akan masak. Dia berfikir mungkin keajaiban Tuhan akan terjadi semasa perjalanannya ke pasar. Sebelum keluar dari rumah, dia sempat mengangkat kedua tangannya untuk berdoa. “Tuhan, aku percaya, Engkau akan mengabulkan doaku. Sementara akuberjalan menuju ke pasar, Engkau kurniakanlah keajaiban ini buatku, jadikanlah tempe ini.
Amin”. Lalu dia pun berangkat. Di sepanjang perjalanan dia tetap tidaklupa membaca doa di dalam hatinya. Sesampai sahaja di pasar, segera dia meletakkan barang-barangnya. Hatinya betul-betul yakin yang tempenya sekarang mesti sudah menjadi. Dengan hati yg berdebar-debar dia pun membuka bakulnya dan menekan-nekan dengan jarinya setiap bungkusan tempe yang ada.Perlahan-lahan dia membuka sedikit daun pembungkusnya dan melihat isinya.Apa yang terjadi? Tempenya masih belum menjadi!! Dia pun kaget seketika lalu menarik nafas dalam-dalam. Dalam hatinya sudah mula merasa sedikit kecewa dan putus asa kepada Tuhan kerana doanya tidak dikabulkan. Dia berasakan Tuhan tidak adil. Tuhan tidak kasihan padanya, inilah satu-satunya punca rezekinya, hasil jualan tempe. Dia akhirnya cuma duduk sahaja tanpa mempamerkan barang jualannya sebab dia berasakan bahawa tiada orang yang akan membeli tempe yang baru separuh menjadi.
Sementara itu hari pun semakin petang dan pasar sudah mulai sepi, para pembeli sudah mula kurang. Dia meninjau-ninjau kawan-kawan sesama penjual tempe, tempe mereka sudah hampir habis. Dia tertunduk lesu seperti tidak sanggup menghadapikenyataan bahawa hari ini tiada hasil jualan yang boleh dibawa pulang. Namun jauh di sudut hatinya masih menaruh harapan terakhir kepada Tuhan, pasti Tuhanakan menolongnya. Walaupun dia tahu bahawa pada hari itu dia tidak akan dapatpendapatan langsung, namun dia tetap berdoa buat kali terakhir, “Tuhan,berikanlah penyelesaian terbaik terhadap tempeku yang belum menjadi ini.”Tiba-tiba dia dikejutkan dengan teguran seorang wanita.
“Maaf ya, saya ingin bertanya, Makcik ada tak menjual tempe yang belummenjadi? Dari tadi saya sudah pusing keliling pasar ini untuk mencarinyatapi masih belum berjumpa lagi.” Dia termenung dan terpinga-pinga seketika. Hatinya terkejut sebab sejak berpuluh tahun menjual tempe, tidak pernah seorang pun pelanggannya mencari tempe yang belum menjadi. Sebelum dia menjawab sapaan wanita di depannya itu, cepat-cepat dia berdoa di dalam hatinya “Tuhan, saat ini aku tidak mahu tempe ini menjadi lagi. Biarlah tempe ini seperti semula, Amin”. Sebelum dia menjawab pertanyaan wanita itu, dia membuka sedikit daunpenutup tempenya. Alangkah seronoknya dia, ternyata memang benar tempenya masihbelum menjadi! Dia pun rasa gembira dalam hatinya dan bersyukur pada Tuhan.
Wanita itu pun memborong habis kesemua tempenya yang belum menjadi itu.Sebelum wanita tu pergi, dia sempat bertanya wanita itu, “Mengapa hendakmembeli tempe yang belum jadi?” Wanita itu menerangkan bahawa anaknya yang kini berada di England teringin makan tempe dari desa. Memandangkan tempe itu akan dikirimkan ke England, si ibu tadi kenalah membeli tempe yang belum jadi lagi supaya apabila sampai di England nanti akan menjadi tempe yang sempurna. Kalau dikirimkan tempe yang sudah menjadi, nanti di sana tempe itu sudah tidak elok lagi dan rasanya pun kurang sedap.
Perempuan tua itu pun kehairanan dan berfikir rupa-rupanya doanya sudah pundimakbulkan oleh Tuhan…
Label: Motivasi
Seekor belalang telah lama terkurung dalam sebuah kotak.Suatu hari ia berhasil keluar dari kotak yang mengurungnyatersebut. Dengan gembira ia melompat-lompat menikmatikebebasannya.
Di perjalanan dia bertemu dengan seekor belalang lain.Namun dia keheranan mengapa belalang itu bisa melompatlebih tinggi dan lebih jauh darinya.
Dengan penasaran ia menghampiri belalang itu, dan bertanya,“Mengapa kau bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh,padahal kita tidak jauh berbeda dari usia ataupun bentuktubuh ?”.
Belalang itu pun menjawabnya dengan pertanyaan,“Dimanakah kau selama ini tinggal? Karena semua belalangyang hidup di alam bebas pasti bisa melakukan seperti yangaku lakukan”.
Saat itu si belalang baru tersadar bahwa selama ini kotakitulah yang membuat lompatannya tidak sejauh dan setinggibelalang lain yang hidup di alam bebas.
Renungan :Kadang-kadang kita sebagai manusia, tanpa sadar, pernahjuga mengalami hal yang sama dengan belalang.
Lingkungan yang buruk, hinaan, trauma masa lalu, kegagalanyang beruntun, perkataan teman atau pendapat tetangga,seolah membuat kita terkurung dalam kotak semu yangmembatasi semua kelebihan kita. Lebih sering kita mempercayaimentah-mentah apapun yang mereka voniskan kepada kitatanpa pernah berpikir benarkah Anda separah itu?Bahkan lebih buruk lagi, kita lebih memilih mempercayaimereka daripada mempercayai diri sendiri.
Tidakkah Anda pernah mempertanyakan kepada nurani bahwaAnda bisa “melompat lebih tinggi dan lebih jauh” kalau Andamau menyingkirkan “kotak” itu?Tidakkah Anda ingin membebaskan diri agar Anda bisa mencapaisesuatu yang selama ini Anda anggap diluar batas kemampuanAnda?
Beruntung sebagai manusia kita dibekali Tuhan kemampuanuntuk berjuang, tidak hanya menyerah begitu saja pada apayang kita alami. Karena itu teman, teruslah berusaha mencapaiapapun yang Anda ingin capai. Sakit memang, lelah memang,tapi bila Anda sudah sampai di puncak, semua pengorbananitu pasti akan terbayar.
Kehidupan Anda akan lebih baik kalau hidup dengan cara hiduppilihan Anda. Bukan cara hidup seperti yang mereka pilihkanuntuk Anda.
Label: Motivasi
Seorang anak muda mengunjungi seorang ahli permata dan menyatakan maksudnya untuk berguru. Ahli permata itu menolak pada mulanya, karena dia kuatir anak muda itu tidak memiliki kesabaran yang cukup untuk belajar. Anak muda itu memohon dan memohon sehingga akhirnya ahli permata itu menyetujui permintaannya. “Datanglah ke sini besok pagi.” katanya.
Keesokan harinya, ahli permata itu meletakkan sebuah batu berlian di atas tangan si anak muda dan memerintahkan untuk menggenggamnya. Ahli permata itu meneruskan pekerjaannya dan meninggalkan anak muda itu sendirian sampai sore.
Hari berikutnya, ahli permata itu kembali menyuruh anak muda itu menggenggam batu yang sama dan tidak mengatakan apa pun yang lain sampai sore harinya. Demikian juga pada hari ketiga, keempat, dan kelima.
Pada hari keenam, anak muda itu tidak tahan lagi dan bertanya, “Guru, kapan saya akan diajarkan sesuatu?”
Gurunya berhenti sejenak dan menjawab, “Akan tiba saatnya nanti,” dan kembali meneruskan pekerjaannya.
Beberapa hari kemudian, anak muda itu mulai merasa frustrasi. Ahli permata itu memanggilnya dan meletakkan sebuah batu ke tangan pemuda itu. Anak muda frustrasi itu sebenarnya sudah hendak menumpahkan semua kekesalannya, tetapi ketika batu itu diletakkan di atas tangannya, anak muda itu langsung berkata, “Ini bukan batu yang sama!”
“Lihatlah, kamu sudah belajar,” kata gurunya
Label: Motivasi
Ketika aku sudah tua, bukan lagi aku yang semula.Mengertilah,bersabarlah sedikit terhadap aku.
Ketika pakaianku terciprat sup, ketika aku lupa bagaimana mengikat sepatu,ingatlah bagaimana dahulu aku mengajarmu.
Ketika aku berulang-ulang berkata-kata tentang sesuatu yang telah bosan kaudengar, bersabarlah mendengarkan, jangan memutus pembicaraanku.
Ketika kau kecil, aku selalu harus mengulang cerita yang telah beribu-ribukali kuceritakan agar kau tidur.
Ketika aku memerlukanmu untuk memandikanku, jangan marah padaku.Ingatkah sewaktu kecil aku harus memakai segala cara untuk membujukmu mandi?
Ketika aku tak paham sedikitpun tentang tehnologi dan hal-hal baru, janganmengejekku.Pikirkan bagaimana dahulu aku begitu sabar menjawab setiap “mengapa” darimu.
Ketika aku tak dapat berjalan, ulurkan tanganmu yang masih kuat untukmemapahku.Seperti aku memapahmu saat kau belajar berjalan waktu masih kecil.
Ketika aku seketika melupakan pembicaraan kita, berilah aku waktu untukmengingat.Sebenarnya bagiku, apa yang dibicarakan tidaklah penting, asalkan kaudisamping mendengarkan, aku sudah sangat puas.
Ketika kau memandang aku yang mulai menua, janganlah berduka.Mengertilah aku, dukung aku, seperti aku menghadapimu ketika kamu mulaibelajar menjalani kehidupan.
Waktu itu aku memberi petunjuk bagaimana menjalani kehidupan ini, sekarangtemani aku menjalankan sisa hidupku.
Beri aku cintamu dan kesabaran, aku akan memberikan senyum penuh rasasyukur, dalam senyum ini terdapat cintaku yang tak terhingga untukmu.
Label: Motivasi
Di sebuah keluarga miskin, seorang ayah tampak kesal pada anak perempuannya yang berusia tiga tahun. Anak perempuannya baru saja menghabiskan uang untuk membeli kertas kado emas untuk membungkus sekotak kado.
Keesokan harinya, anak perempuan itu memberikan kado itu sebagai hadiah ulang tahun pada sang ayah.
“Ini untuk ayah,” kata anak gadis itu.
Sang ayah tak jadi marah. Namun ketika ia membuka kotak dan mendapatkan isinya kosong, meledaklah kemarahannya.
“Tak tahukah kau, kalau kau menghadiahi kado pada seseorang, kau harus memberi sebuah barang dalam kotak ini!”
Anak perempuan kecil itu menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca. Ia berkata terisak-isak, “Oh ayah, sesungguhnya aku telah meletakkan sesuatu ke dalam kotak itu.”
“Apa yang kau letakkan ke dalam kotak ini? Bukankah kau lihat kotak ini kosong?” bentak ayahnya.
“Oh ayah, sungguh aku telah meletakkan hampir ribuan ciuman untuk ayah ke dalam kotak itu,” bisik anak perempuan itu.
Sang ayah terperangah mendengar jawaban anak perempuan kecilnya. Ia lalu memeluk erat-erat anak perempuannya dan meminta maaf.
Konon, orang-orang menceritakan bahwa, pria itu selalu meletakkan kotak kado itu di pinggir tempat tidurnya sampai akhir hayat. Kapan pun ia mengalami kekecewaan, marah atau beban yang berat, ia membayangkan ada ribuan ciuman dalam kotak itu yang mengingatkan cinta anak perempuannya.
Dan sesungguhnya kita telah menerima sebuah kotak emas penuh berisi cinta tanpa pamrih dari orang tua, istri/suami, anak, pasangan, teman dan sahabat kita. Tak ada yang lebih indah dan berharga dalam hidup ini selain cinta.
Label: Motivasi
Sebatang bambu yang indah tumbuh di halaman rumah seorang petani. Batang bambu ini tumbuh tinggi menjulang di antara batang-batang bambu lainnya. Suatu hari datanglah sang petani yang empunya pohon bambu itu.
Dia berkata kepada batang bambu,” Wahai bambu, maukah engkau kupakai untuk menjadi pipa saluran air yg sangat berguna untuk mengairi sawahku?”
Batang bambu menjawabnya, “Oh tentu aku mau bila dapat berguna bagi engkau,Tuan. Tapi ceritakan apa yang akan kau lakukan untuk membuatku menjadi pipa saluran air itu.”
Sang petani menjawab, “Pertama, aku akan menebangmu untuk memisahkan engkau dari rumpunmu yang indah itu. Lalu aku akan membuang cabang-cabangmu yang dapat melukai orang yang memegangmu. Setelah itu aku akan membelah-belah engkau sesuai dengan keperluanku. Terakhir aku akan membuang sekat-sekat yang ada di dalam batangmu, supaya air dapat mengalir dengan lancar. Apabila aku sudah selesai dengan pekerjaanku, engkau akan menjadi pipa yang akan mengalirkan air untuk mengairi sawah sehingga padi yang ditanam dapat tumbuh dengan subur.”
Mendengar hal ini, batang bambu lama terdiam….., kemudian dia berkata kpd petani, “Tuan, tentu aku akan merasa sangat sakit ketika engkau menebangku. Juga pasti akan sakit ketika engkau membuang cabang-cabangku, bahkan lebih sakit lagi ketika engkau membelah-belah batangku yang indah ini dan pasti tak tertahankan ketika engkau mengorek-ngorek bagian dalam tubuhku untuk membuang sekat-sekat penghalang itu. Apakah aku akan kuat melalui semua proses itu, Tuan?”
Petani menjawab, ” Wahai bambu, engkau pasti kuat melalui semua ini karena aku memilihmu justru karena engkau yang paling kuat dari semua batang pada rumpun ini. Jadi tenanglah.”
Akhirnya batang bambu itu menyerah, “Baiklah, Tuan. Aku ingin sekali berguna ketimbang batang bambu yg lain. Inilah aku, tebanglah aku, perbuatlah sesuai dengan yang kau kehendaki.”
Setelah petani selesai dengan pekerjaannya, batang bambu indah yang dulu hanya menjadi penghias halaman rumah petani, kini telah berubah menjadi pipa saluran air yang mengairi sawah sehingga padi dapat tumbuh dengan subur dan berbuah banyak.
Pernahkah kita berpikir bahwa dengan tanggung jawab dan persoalan yg sarat, mungkin Tuhan sedang memproses kita untuk menjadi indah di hadapan-Nya? Sama seperti batang bambu itu, kita sedang ditempa.
Tapi jangan kuatir, kita pasti kuat karena Tuhan tak akan memberikan beban yang tak mampu kita pikul. Jadi maukah kita berserah pada kehendak Tuhan, membiarkan Dia bebas berkarya di dalam diri kita untuk menjadikan kita alat yang berguna bagi-Nya?
Seperti batang bambu itu, mari kita berkata, ” Inilah aku, Tuhan…perbuatlah sesuai dengan yang Kau kehendaki.”
Label: Motivasi
Seorang pria yang bertamu ke rumah Sang Guru tertegun keheranan. Dia melihat Sang Guru sedang sibuk bekerja; ia mengangkuti air dengan ember dan menyikat lantai rumahnya keras-keras. Keringatnya bercucuran deras. Menyaksikan keganjilan ini orang itu bertanya, “Apa yang sedang Anda lakukan?”
Sang Guru menjawab, “Tadi saya kedatangan serombongan tamu yang meminta nasihat. Saya memberikan banyak nasihat yang bermanfaat bagi mereka.
Mereka pun tampak puas sekali. Namun, setelah mereka pulang tiba-tiba saya merasa menjadi orang yang hebat. Kesombongan saya mulai bermunculan. Karena itu, saya melakukan ini untuk membunuh perasaan sombong saya.”
Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, yang benih-benihnya terlalu kerap muncul tanpa kita sadari. Di tingkat terbawah, sombong disebabkan oleh faktor materi. Kita merasa lebih kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain.
Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan. Kita merasa lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan dibandingkan orang lain.
Di tingkat ketiga, sombong disebabkan oleh faktor kebaikan. Kita sering menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain.
Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan, semakin sulit pula kita mendeteksinya. Sombong karena materi sangat mudah terlihat, namun sombong karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit terdeteksi karena seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita.
Akar dari kesombongan ini adalah ego yang berlebihan. Pada tataran yang lumrah, ego menampilkan dirinya dalam bentuk harga diri (self-esteem) dan kepercayaan diri (self-confidence) . Akan tetapi, begitu kedua hal ini berubah menjadi kebanggaan (pride), Anda sudah berada sangat dekat dengan kesombongan. Batas antara bangga dan sombong tidaklah terlalu jelas.
Kita sebenarnya terdiri dari dua kutub, yaitu ego di satu kutub dan kesadaran sejati di lain kutub. Pada saat terlahir ke dunia, kita dalam keadaan telanjang dan tak punya apa-apa. Akan tetapi, seiring dengan waktu, kita mulai memupuk berbagai keinginan, lebih dari sekadar yang kita butuhkan dalam hidup. Keenam indra kita selalu mengatakan bahwa kita memerlukan lebih banyak lagi.
Perjalanan hidup cenderung menggiring kita menuju kutub ego. Ilusi ego inilah yang memperkenalkan kita kepada dualisme ketamakan (ekstrem suka) dan kebencian (ekstrem tidak suka). Inilah akar dari segala permasalahan.
Perjuangan melawan kesombongan merupakan perjuangan menuju kesadaran sejati. Untuk bisa melawan kesombongan dengan segala bentuknya, ada dua perubahan paradigma yang perlu kita lakukan. Pertama, kita perlu menyadari bahwa pada hakikatnya kita bukanlah makhluk fisik, tetapi makhluk spiritual. Kesejatian kita adalah spiritualitas, sementara tubuh fisik hanyalah sarana untuk hidup di dunia. Kita lahir dengan tangan kosong, dan (ingat!) kita pun akan mati dengan tangan kosong.
Pandangan seperti ini akan membuat kita melihat semua makhluk dalam kesetaraan universal. Kita tidak akan lagi terkelabui oleh penampilan, label, dan segala “tampak luar” lainnya. Yang kini kita lihat adalah “tampak dalam”. Pandangan seperti ini akan membantu menjauhkan kita dari berbagai kesombongan atau ilusi ego.
Kedua, kita perlu menyadari bahwa apa pun perbuatan baik yang kita lakukan, semuanya itu semata-mata adalah juga demi diri kita sendiri.
Kita memberikan sesuatu kepada orang lain adalah juga demi kita sendiri.
Dalam hidup ini berlaku hukum kekekalan energi. Energi yang kita berikan kepada dunia tak akan pernah musnah. Energi itu akan kembali kepada kita dalam bentuk yang lain. Kebaikan yang kita lakukan pasti akan kembali kepada kita dalam bentuk persahabatan, cinta kasih, makna hidup, maupun kepuasan batin yang mendalam. Jadi, setiap berbuat baik kepada pihak lain, kita sebenarnya sedang berbuat baik kepada diri kita sendiri. Kalau begitu, apa yang kita sombongkan?
Label: Motivasi
Seorang ibu muda berlari kencang mengejar bis yang berjalan merambatdi depan halte di daerah Kebon Nanas, Tangerang, Banten. Saatberlari, ia tidak sendiri. Ia menggendong anaknya yang masih berusiasatu tahun. Pundak kecilnya juga masih harus dibebani dengan sekotakalat musik karaoke. Dua beban yang tak menyurutkan laju kencangnyamengejar bis kota , sayangnya bis besar itu hanya menyisakan kepulanasap hitam di wajah wanita pengamen itu.
Si kecil yang digendongnya, hanya bisa menutup mata untukmenghindari kepulan asap yang memerihkan mata. Ia, sungguh takkanpernah mengerti sebab apa dibawa berlari mengejar satu bis ke bislainnya. Ia, juga takkan pernah memahami, setiap kali ibunyabernyanyi di depan puluhan pasang mata di dalam bis kota . Yang iatahu hanyalah, terik matahari, atau derasnya hujan, debu jalanan,asap knalpot, aroma bis kota , tatapan iba, dan juga makianpenumpang yang terganggu oleh hingar musik ibunya. Semua itu menjadisahabat sehari-hari si kecil.
Lain lagi dengan pemandangan di Pasar pagi Cikokol, Tangerang,Banten. Pukul 02.00 dini hari, seorang anak berusia tidak lebih tigatahun terlelap di tengah pasar. Berselimut angin malam, bertemanaroma pasar, si kecil tertidur ditemani hiruk pikuk para aktorpasar; penjual dan pembeli. Sesekali mimpinya tergugah oleh klaksonmobil, matanya terbuka melihat sekejap sang ibu yang sibuk melayanipembeli. Kemudian terlelap kembali merajut mimpi indahnya.
Anak pasar itu -kalau boleh disebut begitu- tak pernah tahu sebabapa ibunya menyertakannya dalam aktivitas di pasar dini hari itu. Iatak pernah benar-benar mengerti kenapa dirinya berada di tengah-tengah tumpukan cabai, bawang, tomat dan sayuran setiap pagi danmelihat transaksi jual beli yang dilakukan ibunya. Saat terbangundan menemani ibunya, cabai, bawang, tomat itulah sahabatnya. Anginpagi yang menusuk menjadi selimutnya, dan aroma tak sedap pasarbecek lah yang kerap mengakrabinya.
Di tempat yang berbeda. Seorang ibu di Bogor naik turun KRL (keretaapi listrik) menggendong anaknya yang cacat mental dan fisik,padahal si anak sudah berusia belasan tahun. Anak yang takkan pernahmengerti itu, benar-benar tidak tahu, sebab apa ibunya relamenanggung malu mengemis belas kasih dari penumpang kereta. Si anakjuga tak pernah bertanya, “beratkah ibu menggendong saya?”
Masih di kereta yang sama, seorang ibu lainnya menggendong anaknyayang berusia tiga tahun. Si kecil yang lucu dan ramah itu, hanyamemiliki sebelah tangan. Ia tak dianugerahi tangan kiri dan dua kakisaat terlahir ke dunia ini. Anak itu, tak pernah memahami kenapa disetiap menit selalu ada tetes air mata di sudut mata ibunya. Sikecil selalu tersenyum, meski air muka ibunya tak pernah menyiratkanbahagia. Senyum sang ibu kerap dipaksakan di depan para penumpangkereta, demi sekeping receh yang diharapnya.
***
Anak-anak itu, memang belum akan mengerti sebab apa ibunya mengejarbis kota , mengakrabi malam di pasar, dan menyusuri gerbong demigerbong kereta api. Yang mereka tahu hanyalah, mereka tak pernahjauh dari ibunya. Yang mereka rasakan adalah kecupan di kening danwajah setiap kali sang ibu berkesah tak mendapatkan rezeki. Bahasakalbu ibu berkata, “sebab cinta, ibu melakukan semua ini nak”.
Sungguh, jika tak karena cinta, langkahnya sudah terhenti. Cintalahyang mengajarkannya untuk menghapus kata “lelah” dan “putus asa”dalam kamus hidup seorang ibu.
Label: Motivasi